Sabtu, 16 November 2013

Ditubuhku Mengalir Nafasmu

   Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

    Sepenggal bait lagu diatas menggambarkan bahwa ibu adalah sosok yang sangat luar biasa. Ia memberikan kasih sayang kepada anaknya tanpa meminta balasan. Cinta dan kasih sayangnya akan selalu menjadi penerang dalam hidup setiap anak.

    Dimataku, ibu adalah segalanya. Ibu adalah hidupku. Pengorbanan yang sudah ia lakukan tidak ada tandingannya didunia ini. Ia tidak pernah meminta untuk mengganti atau membayar setiap pengorbanannya karena memang tak akan tergantikan dan tak terbayarkan oleh apapun.

    Ibu rela berkorban nyawa demi seonggok janin yang ada dalam rahimnya, semata-mata agar aku si buah hatinya dapat terlahir ke dunia. Bagiku, ibu adalah sosok wanita kuat dan tangguh namun tidak berotot. Ia seperti malaikat tanpa sayap, malaikat pelindung yang siap 24 jam menjagaku.

    Ibu pernah bercerita, sewaktu aku masih dalam kandungan, ibu sama sekali tidak merasa mual seperti kebanyakan ibu hamil lainnya. Ibu menganggap itu suatu kemudahan dari Allah SWT. Ketika kandungan ibu mulai membesar, ibu bercerita kalau ia sulit untuk berdiri, duduk, tidur, dan berjalan. Tetapi ibu tidak pernah mengeluh, ia hanya menikmati dengan mengusap perutnya dan dari mulutnya terucap doa yang selalu dipanjatkan untukku agar kelak aku menjadi anak yang dapat dibanggakan. Dan pada saat detik-detik aku dilahirkan, dimana saat ibu mempertaruhkan hidup dan matinya, ia juga bercerita kalau ia merasakan sakit yang teramat sampai menusuk sendi dan tulangnya. Namun, kebahagiaan setelah mendengar tangisanku ketika lahir mengalahkan semua sakit yang ia rasakan.

    Tidak mudah bagi ibu membesarkanku agar menjadi insan yang sempurna. Tidak pernah putus belas kasih sayangnya yang selalu dicurahkan untukku sejak sebelum aku terlahir ke dunia hingga sampai aku sebesar ini. Sungguh mulia sosok ibu hingga tidaklah salah apabila surga-Nya berada ditelapak kaki ibu.

    Ibu pernah bertanya bagaimana cara menggunakan laptop dan ibu meminta aku untuk mengajarinya. Aku menuruti kemauannya, namun aku mengajari dengan perasaan malu dan emosi dibenakku. Aku seperti kacang yang lupa akan kulitnya. Sangat tak sepadan dengan sikapnya yang tulus saat pertama kali mengajariku membaca dan menulis.

    Tak jarang pula aku membuat ibu sedih dan kecewa. Pernah juga aku membuat ibu menangis. Namun aku tidak pernah meminta maaf setelahnya. Aku tidak tahu bagaimana perasaan yang ibu rasakan. Pasti sangat sakit, melebihi sakitnya ketika saat melahirkanku. Karena saat aku tidak sengaja menyakiti hati ibu, dihatiku pun merasakan penyesalan yang teramat dalam.

    Aku pernah bertengkar hebat dengan ibu, sampai dari mulutnya keluar kata-kata yang sangat menggetarkan hati dan jiwaku. Ibu bilang, ‘salah apa ibu melahirkan anak sepertimu’. Aku hanya bisa terdiam dan dalam hati aku memohon ampun. Maafkan anakmu ini bu, tidak dapat memberikan yang terbaik seperti layaknya yang aku peroleh ketika aku kecil. Sampai hatipun aku sama sekali tidak berniat untuk menyakiti hatimu, ibu.

    Seringkali aku mengeluh karena lelah menuntut ilmu, namun, ibu selalu menyemangatiku. Ibu bilang, aku satu-satunya harapan mereka dan di jaman yang serba mudah ini harusnya aku bersyukur karena bisa belajar sampai perguruan tinggi. Aku sadar, keberadaanku sebagai anak tunggal membuat semua harapan terpanggul dipundakku.

    Ibu bukan hanya sosok yang lemah lembut buatku. Ibu juga sosok pendamping yang kuat buat ayah. Demi membantu ayah, ibu rela bekerja dari subuh hingga malam. Sepanjang hidupnya, perjuangan ibu tak kenal lelah. Ibu selalu tersenyum, meskipun aku tahu dibalik senyumnya terpancar rasa yang teramat lelah.

    Ibu, aku berhutang padamu. Sebuah hutang yang aku tahu meski dengan emas atau berlian sekalipun tak akan pernah bisa aku membayarnya. Aku hanya bisa berdoa agar ibu selalu diberikan safa’at dan kelak ibu berada di surga-Nya sebagai balasan atas semua pengorbanan dan perjuangan ibu selama ini.

    Dalam jantungku, selalu ada nama yang berdetak tanpa henti. Nama yang tak pernah lelah kusebut dalam setiap doa, yaitu nama ibu. Dan dalam tubuhku, mengalir nafasmu yang selalu menyertaiku untuk menjalani hari. Terima kasih untuk kasih sayang yang telah ibu berikan. Sejuta terima kasih takkan mampu membalas semua jasamu, bu. Aku bangga menjadi anak ibu. Aku sayang ibu.

Oleh : Vania Kamila Andarini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar